Saturday, March 2, 2013

Pengakuan MA Korban Pencabulan Siswi SMU 22 Jakarta

Ini Pengakuan Siswi Korban Pencabulan Guru SMA di Jaktim

Jakarta - Seorang siswi di sebuah SMA di Jakarta Timur menjadi korban pencabulan oleh gurunya. Seperti apa pengakuannya?

Detikcom berkesempatan berbincang dengan siswi yang menjadi korban pelecehan tersebut, Jumat (1/3/2013) di rumahnya di Jakarta Timur. Siswi tersebut pun membeberkan peristiwa yang menimpanya tersebut. Berikut wawancara lengkapnya.

Seperti apa kronologi pelecehan tersebut?

26 Juni 2012 pulang dari Bali. Guru-guru di sekolah rapat di Sukabumi. Jam 14.30 WIB menuju ke mari. Pelaku, Pak T nelpon saya, neng lagi di mana? Pukul 15.00 WIB siang bapak sampai sekolah. Ada yang mau bapak omongin. Ngomongin apa nih pak?
Pokoknya penting.

OK. Janjian di mana? di BCA utan kayu aja. Karena takutnya anak-anak pada tahu mobil dia kalau di deket SMA.

Apa yang dilakukan Pak T dalam pertemuan tersebut?

Pas ketemu, tangan saya dipegang sama dia. Minyak wangi kamu wangi banget neng? Kata dia. Terus masuk tol ke Ancol. Makan Pizza, ajak keliling. Parkir samping Pizza. Agak gelap, saya dipaksa ituin dia sampai dia puas. Tangan saya dilap pakai tisu, tisu dibuang. Saya dianter sampai Cempaka Putih, kasish Rp 50 ribu ditungguin naik taksi.

Itu kejadian pertama atau ada peristiwa berikutnya?

Kemudian yang ke 2 bulan Juli. Saya diajak ke Sentul makan Bakmi Kelinci. Dia bilang ada kegiatan ekskul. Saya ikutin apa kata dia. Janjian di BKPP. Makan bakmi.
Mau naik mobil bapak ga? kata dia. Saya nggak bisa naik begituan. Akhirnya keliling di Sentul. Dia ngajak nonton. Jam 18.30 WIB malam.

Ini sudah malam, nggak mau pak. Gimana kalau belanja aja? Tapi takutnya ada yang tahu kalau kita belanja. Terus di parkiran dia buka celana, maksa saya buat gitu lagi. Lalu saya dianterin di depan Universitas di Cawang, kasih Rp 50 ribu ditungguin naik taksi.

Ada ancaman-ancaman sehingga anda tutup mulut selama ini?

Saya diancam, nilai-nilai saya. Itu sejak pertama kali setelah kita melakukan. Jangan bilang ke siapa-siapa. Nilai dan ijazah kamu terancam.

Peristiwa pelecehan itu terus berlanjut?

Ketiga kalinya di Ancol. Bulan Juli juga. Dengan dalih yang sama. Sambil menundukkan kepala saya, memaksa untuk melakukan itu juga. Pas pilihannya Jokowi kan libur, Pak T jam 10.30 WIB telepon saya. Gimana kalau di rumah? loh emang bunda ke mana pak? bunda lagi ke pemakaman kan mau puasa. Terus kita janjian di depan Kementerian Lingkungan Hidup di Cawang.

Sepanjang jalan dia nyanyi-nyanyi. Saya suruh ke belakang masuk di bagasi. Di bagasi sudah disiapin selimut dan bantal. Kursinya juga sudah di lipat ke depan. Sampai rumahnya, saya masuk lewat pintu samping. Di dalamnya biasa ngomongin sekolah, cerita kalau dia suka kucing. Dia bilang, bapak tahu wanita kayak gimana, makanya bapak nggak mau melakukan hal sejauh itu. Karena dia kan guru Biologi juga, kita nggak sampai jauh, nggak sampai ngeseks.

Kenapa diam saja setelah dilecehkan seperti itu?

Yang pertama, Saya takut nilai-nilai saya terancam. Yang kedua, dia kan Wakasek. Dia punya jabatan.

Om saya kan kerja di Diknas, dia bilang, neng, coba tanyain ke om kamu kenapa saya nggak jadi Kepsek? Tapi sampai sekarang saya nggak pernah nanya ke om saya. Ke 4 kalinya itu saya nggak mau.

Kapan mulai cerita ke orang?

Karena saya nggak tahan, saya cerita ke Pak Y.

Kenapa cerita ke Pak Y?

Karena saya nggk punya sosok ayah. Sejak kecil saya nggak pernah thau ayah saya. Pak Y bilang ke saya, saya suruh lapor BK. November saya cerita ke BK.

Tanggapan BK?

BK sangat mendukung. Desember saya diminta BK bikin pernyataan ke Kepsek. BK datang ke Kepsek. Tapi kata Kepsek suruh nunggu hingga ujian April nanti. 2013.

Kapan keluarga mengetahui hal ini?

Februari tante tahu kasus ini. Lalu dia lapor ke Polsek Jatinegara tapi karena kejadiannya nggak cuma di Jaktim, tante lapor ke Polda. Terus ke KPAI juga.

Selama ini dipendam sendiri?

Iya. Saya takut mau cerita, nilai saya kan terancam.

Tidak mengganggu belajar?

Terganggu juga. Apalagi sudah mau TO.

Tanggapan sekolah?

Beberapa hari lalu, Kepsek datang ke sini. Minta damai. Minta dicabut perkara. Tapi saya nggak mau. Saya tetap mau melanjutkan.

Reaksi Kepsek tadi saat konpers bagaimana?

Kepsek lagi dipanggil Dinas. Tadi nggak ada.

Karena kasus ini?

Nggak tahu deh. Pak T kan di IPA. Ngajar Biologi. Dia kumpulin tanda-tangan anak-anak yang setuju sama dia.

Mereka setuju?
Anak-anak katanya kena ancaman juga. Anak IPA yang diajar Pak T. Anak-anak buku tahunan juga.

Sama Pak Y deket?

Dia guru Geografi. Yang diomongin Pak T di konpers tadi itu bohong semua. Itu alibinya dia aja. Semua bohong. Dia jago banget dalam memutar balikkan fakta.

Pak T masih jadi Wakasek?

Mengundurkan diri 20 Februari kemarin.

Karena kasus ini?

Iya.

Bagaimana respons teman-teman?

Sebagian ada yang bela saya, ada yang bela dia.

Sedeket apa kamu sama Pak T?

Kalau ada kegiatan, minta koordinasi sama dia. Aku kan bendahara juga di kelas. Waktu study tour di Bali. Semua kan sudah diatur. Bus itu sudah fix sama anak-anak sudah dibentuk kelompok. Saya di bus 2. Sebelumnya Pak T nanya, kamu nanti kelompoknya sama siapa aja, di bus berapa, kasih tahu bapak ya.

Eh besoknya sudah dirombak lagi. Jadi di bus 1. Saya tanya ke teman. Katanya Pak T yang ngeset semua. Dia nggak tahu kenapa. Pas dilihat pembimbingnya ternyata ada Pak T.

Kenal keluarga Pak T?

nggak kenal.

Usia dia?

Usia Pak T 46 tahun.

Pernah ketemu istrinya?

Pernah sekilas.

Bertemu istrinya di sekolah?

Bukan. Waktu ada acara sekolah di puncak.

Pak T sudah punya anak?

Sudah. SMP dan TK.

Setelah ini terungkap, Senin depan tetap sekolah?

Tetap sekolah karena di sekolah mau UAS.

Tanggapan teman-teman bagaimana?

Mereka sebagian mendukung. Ayo tunjukin kalau kamu benar. Meskipun saya sedih, saya tetap sekolah. Tapi teman-teman di kelas pada mojokin. "SNMPTN gue gimana ya? Karena kan nanti diliat dulu latar belakang sekolahnya gimana?" Gitu kata mereka.
Bikin status BBM juga mojokin saya. Saya cerita ke BK.

Apa yang paling terasa berat?

Ancaman itu yang sangat berat.

Yakin dengan usaha ke Polda?

Karena banyak yang mendampingi, saya tetap optimis.
Tiap salat, saya berdoa supaya saya diberi kekuatan. Takut terulang lagi ke anak-anak selain saya.

Bagaimana respons tetangga di rumah?

Tetangga sudah pada tahu. Mereka berharap biar kasus ini cepat selesai.


(van/van)

Sumber : http://news.detik..com/read/2013/03/...-sma-di-jaktim

Kasian banget si korban. Dapet ancaman dari para guru + cemoohan sesama murid.


Sumber dari oleh budikris

No comments:

Post a Comment