Friday, March 15, 2013

Menjaga Tradisi Dengan Merayakan Hari Kelahiran Dewa Bumi

Setahun sekali warga keturunan etnis Tionghoa pemeluk Tri Dharma (Buddha, Konghucu, dan Tao) menggelar perayaan untuk memperingati hari yang dipercaya sebagai hari kelahiran Dewa Bumi. Perayaan yang jatuh setiap bulan dua tanggal dua penanggalan Imlek itu dalam istilah Tionghoa disebut dengan istilah Sejiet Khongco Hok Tek Tjeng Sin.

Pada 2013 atau 2564 (penanggalan Imlek) Sejiet Khongco Hok tek Tjeng Sin diperingati sebagian warga peranakan Tionghoa di Tangerang, Banten. Bersamaan dengan perayaan hari ulang tahun ke-324 Vihara Nimmala. Berbagai kegiatan yang dikemas dalam bentuk Festival Budaya Peranakan digelar di vihara yang bernama lain Boen San Bio itu.

Pertunjukkan Barongsai (singa), Liong (naga), Kung Fu atau Wushu, perlombaan ngibing dan busana kebaya tradisional untuk warga lanjut usia, dan bazar, digelar untuk memeriahkan perayaan selama tiga hari penuh, mulai 10 hingga 13 Maret 2013.

Ratusan sampai Ribuan warga keturunan etnis tionghoa dan pribumi, tuaâ€"muda, laki-lakiâ€"perempuan, berbaur menjadi satu dalam kemeriahan festival. Senyum geli, tawa ceria, dan decak kagum terukir di bibir pengunjung yang menyaksikan gemulai gerak tari ngibing para lansia, lihainya para penari Barongsai beratraksi, dan piawainya sejumlah bocah peranakan Tionghoa memperagakan jurus-jurus ilmu bela diri ala Kung Fu atau Wutshu.

Disela kesibukkan, Anton Widjaya selaku Ketua Panitia penyelenggara perayaan Sejiet Khongco Hok Tek Tjeng Sin Ke-324, mengatakan bahwa perayaan sejiet ini sudah berlangsung turun menurun dari leluhur kita, tujuan memperingati Hari Kelahiran Dewa Bumi atau Hok Tek Tjeng sin ke 324 dengan bersamaan dengan perayaan ulang tahun Vihara Nimmala.

“Visi dan misi adalah Melestarikan Budaya dan Kesenian asal keturunan tionghoa serta menanamkan kepedulian bagi remaja jaman sekarang untuk peduli dengan budaya dan kesenian yang sudah ada sejak turun menurun. Persiapan perayaan acara ini ,sekitar 3 bulan lama atau sebelum hari raya imlek 2564, bulan yang lalu. Semua perkumpulan vihara yang ada di Tangerang mendukung acara perayaan ini dengan berpartisipasi dalam memberikan tontonan atraksi, Barongsai, Liong dan lainnya,“ ungkapnya Anton, Selasa (12/3).

Di ruang pertemuan pengurus, Adrianto selaku Wakil Ketua Panitia Acara Sejiet Khongco Hok Tek Tjeng Sin Ke-324 menambahkan, bahwa puncak perayaan yang jatuh pada Selasa 12 Maret 2013 malam diperingati umat dengan menggelar persembahan dan persembahyangan untuk Dewa Bumi.

Sebanyak 108 mangkuk misoa (mie putih) dan telur merah bermakna simbolik keberuntungan, panjang umur, dan lambang rezeki, dipersembahkan kepada sang dewa, sekaligus menandai saatnya peribadatan perayaan dimulai.

Diterangi cahaya lampion dan lilin yang membaur dengan aroma dupa, ribuan umat pun kemudian melakukan persembahyangan di depan altar, memuja sang kuasa, memohon berkah-Nya, agar kehidupan menjadi lebih baik di waktu yang tersisa.

“Acara ini dilengkapi kegiatan Pemilihan Koko Paling Gede (Kode) dan Cici paling gede (Cide) serta pemilihan Locu. Perayaan Sejiet Khongco Hok Tek ceng Sin Ke-324, ditutup dengan berbagai antraksi seperti Pentas Liong dan Barongsay dari berbagai perkumpulan serta pagelaran tarian dan kesenian tradisional,“ tutur Adrianto.

Harapan masyarakat keturunan Tionghoa dan pribumi Tangerang dengan perayaan Sejiet Khongco Hok Tek Tjeng Sin Ke-324 ini, agar dapat berlangsung setiap tahunnya dengan tema yang berbeda tanpa mengurangi inti acara perayaan. Tujuan acara perayaan ini melestarikan dan mengembang budaya Indonesia. [Die007&Alvi]

http://jurnaline.com/2013/03/13/menj...ran-dewa-bumi/

ini Dewa Bumi yg ada di film2 kera sakti bukan?
Sumber dari http://kask.us/g7JnK oleh zhouxian

No comments:

Post a Comment