Wednesday, March 13, 2013

Gaji Dokter Honorer Jakarta Hanya Rp 1,9 Juta

TEMPO.CO, Jakarta - Pendapatan seorang dokter ternyata tak sebesar yang dibayangkan masyarakat. Apalagi kalau dokter itu bekerja sebagai pekerja honorer di puskesmas. Saat ini, gaji yang diterima dokter honorer di Jakarta Rp 1.900.000. "Mulai Januari seharusnya naik jadi Rp 2,2 juta, tetapi akan dirapel nanti," kata Temmy Setiawan, dokter honorer di Puskesmas Jembatan besi, Tambora, Jakarta Barat, Rabu, 13 Maret 2013.

Menurut dia, pendapatan itu memang tak bisa mencukupi kebutuhan hidup di Jakarta. Oleh sebab itu, dirinya masih berpraktek di klinik 24 jam di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat, mulai pukul 17.00 WIB. "Kalau enggak cari praktek di tempat lain, enggak akan cukup," katanya.

Menurut dia, selisih pendapatan dari praktek di puskesmas dengan di klinik sangat jauh. "Dalam sebulan bisa mendapat Rp 4 juta sampai Rp 5 juta, jadi memang jauh sekali," katanya. Padahal dia hanya berpraktek tiga hari dalam sepekan. Beban kerjanya sangat berbeda dengan puskesmas. Di klinik, dia hanya menangani 30-40 pasien dalam sehari, sementara di puskesmas dia bisa menangani 80-90 pasien setiap harinya.

Namun dia mengaku tak berkeinginan menjadi dokter pegawai negeri sipil (PNS) di rumah sakit dan lebih memilih jadi dokter honorer di puskesmas. "Memang gajinya lebih besar, bisa Rp 4-5 juta, tetapi jam kerjanya juga lebih panjang," katanya. "Saya sudah bisa dapat tambahan itu dari praktek di klinik," katanya.

Menurut dia, pendapatan dari bekerja di puskesmas dan klinik sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. "Ya, standar, bisa punya rumah dan mobil," kata dokter yang belum berkeluarga itu.

Dokter dengan status pegawai negeri di Puskesmas Kecamatan Tambora, Santi, mengatakan, gajinya sama saja dengan PNS lain. "Kalau golongan III sekitar Rp 3 juta, itu sudah dengan tunjangan," kata Santi.

Menurut dia, profesinya sebagai dokter tak berpengaruh banyak. "Paling hanya bertambah sekitar Rp 300 ribu," katanya. Soalnya, standar gaji pegawai negeri memang dipukul rata sesuai golongan. "Ada juga perawat saya yang sudah lebih senior dengan pangkat lebih tinggi, gajinya ya lebih besar," kata Santi.

Dia mengaku tak sempat lagi membuka praktek di tempat lain. Soalnya, dia selesai bekerja sekitar pukul 16.00 WIB. "Pulang ke rumah perlu bagi waktu dengan anak dan suami, jadi tidak praktek lagi di tempat lain," katanya. Diakuinya, pendapatannya itu masih cukup karena dia bukanlah pencari nafkah utama dalam keluarganya.

Sebelumnya diberitakan, Ketua Ikatan Dokter Indonesia, Zaenal Abidin, mengatakan, gaji dokter di DKI Jakarta masih terbilang minim dibandingkan profesi lainnya. Dia berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan gaji yang setimpal. "Di atas Rp 15 juta sebulan itu baru memenuhi kebutuhan kita," ujarnya.

sumber
Miris gan, sekolah paling lama, biaya kuliah mahal ehh ternyataa setelah lulus gaji mepet
Sumber dari http://kask.us/g7FQK oleh kortikal

No comments:

Post a Comment