Tuesday, March 5, 2013

aceh surga dunia



BANDA ACEH, KOMPAS.com â€" Ketua Perlindungan Anak
Indonesia Daerah (KPAID) Aceh
Tgk Anwar Yusuf Ajad
menyatakan, saat ini generasi
muda Aceh banyak yang terlibat
seks bebas (free sex) dan fenomena ini sudah sangat serius
sehingga perlu segera ditangani. “Sebenarnya masalah ini sudah
ada sejak tahun 2009. Namun, saat
ini anak-anak Aceh semakin
kehilangan jati dirinya. Jika hal ini
terus dibiarkan tanpa ada tindakan
nyata yang serius, maka dalam dua tahun mendatang anak-anak Aceh
akan benar-benar hilang dalam
kesesatan,” ujar Anwar dalam
diskusi publik tentang "Pergaulan
Bebas dan Narkoba Mengguncang
Negeri Syariat", Minggu (3/3/2013). Diskusi tersebut diselenggerakan
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Aceh
di aula Gedung Kantor Mahkamah
Syar’iyah Aceh. HTI rutin
melaksanakan diskusi setiap
bulan, fokus membahas persoalan-persoalan aktual yang
terjadi di Aceh. Kali ini, persoalan yang diangkat
sebagai tema diskusi adalah
pergaulan bebas dan narkoba di
kalangan generasi muda Aceh. Hal
ini terutama karena gencarnya
pemberitaan media yang menginformasikan tingginya
tingkat pergaulan bebas di Aceh. Salah satu sampel yang dibahas
adalah praktik seks bebas yang
diduga dilakoni 70 persen remaja
Kota Lhokseumawe, sebagaimana
hasil riset Dinas Kesehatan Aceh
tahun lalu. Selain itu, Aceh Utara menempati ranking tertinggi
jumlah kasus HIV/AIDS yang
penderitanya terbanyak karena
melakoni seks bebas, di samping
penggunaan jarum suntik di
kalangan penikmat narkoba. Selain Anwar Yusuf Ajad, diskusi
itu juga menghadirkan Ketua
Badan Narkotika Provinsi (BNP)
Aceh Drs Saidan Nafi, SH, MHum dan
Ketua Hizbut Tahrir DPD I Aceh
Ferdiansyah Sofyan. Sebanyak 300 peserta meramaikan diskusi itu. Di
antaranya para ulama, organisasi
masyarakat (ormas) Islam, dosen,
mahasiswa, serta pengurus dan
remaja masjid yang menaruh
kepedulian terhadap masalah ini. Menurut Anwar Yusuf Ajad,
masalah narkoba dan pergaulan
bebas itu tidak akan bisa teratasi di
Aceh jika tak ada kerja sama dari
semua pihak terkait. “Masalah ini
tidak bisa diselesaikan oleh satu atau dua instansi saja. Oleh karena
itu, semua instansi terkait perlu
turut aktif menjalankan misi
mengembalikan anak-anak Aceh
ke jalan yang benar sesuai dengan
ajaran Islam agar masalah ini bisa terselesaikan secara menyeluruh,”
ujarnya. Instansi terkait yang menurutnya
perlu ambil bagian mengatasi
persoalan generasi muda Aceh ini
adalah Majelis Permusyawaratan
Ulama (MPU), Majelis Adat Aceh
(MAA), Majelis Pendidikan Daerah (MPD), Badan Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan
(BP3A), Wilayatul Hisbah (WH),
Dinas Syariat Aceh, dan tentu saja
pihak kepolisian. “Selain pemerintah, masyarakat
juga memiliki peran besar untuk
menjaga agar anak-anak Aceh
tidak ikut tersesat. Anak
merupakan tanggung jawab yang
harus dididik,” imbuhnya. Dalam hal ini, kata Anwar Yusuf
Ajad, peran orang tua sangatlah
penting. Ia juga berpesan kepada
seluruh elemen masyarakat Aceh
agar sama-sama serius menjaga
anak-anak Aceh karena merekalah kelak yang akan
menjadi generasi penerus Aceh. Ketua panitia diskusi panel itu,
Agus Apriyanto, SE, MSi,
mengatakan, diskusi publik
dengan tema pergaulan bebas dan
narkoba di kalangan generasi
muda Aceh itu sengaja diangkat terkait dengan gencarnya
pemberitaan media yang
menginformasikan tingginya
tingkat pergaulan bebas di Aceh,
khususnya di Kota Lhokseumawe
yang sudah mencapai 70 persen. “Ini angka yang sangat tinggi dan
perlu diberi perhatian khusus.
Dengan adanya diskusi ini
diharapkan dapat membantu
pihak terkait mencari solusi yang
sesuai dengan syariat. Rekomendasi dan solusi itulah
nantinya kita harap dapat
diterapkan untuk menghindari
terjadinya hal serupa di bumi
syariat ini,” kata Agus kepada
Serambi. Diperlukan "pague gampong" Ditanya seusai diskusi tentang
solusi mengatasi tingginya angka
pergaulan bebas dan penggunaan
narkoba di kalangan muda Aceh
saat ini, Ketua Perlindungan Anak
Indonesia Daerah (KPAID) Aceh Tgk Anwar Yusuf Ajad
menyarankan perlunya sistem
pague gampong (pagar desa). Dalam sistem ini, menurutnya,
setiap desa memiliki aturan yang
sama (seragam) untuk menjaga
dan mencegah terjadinya
pergaulan bebas, penjualan
manusia (human trafficking) untuk bisnis seks, dan narkoba. Menurut Anwar, jika peraturan
tersebut diterapkan dengan serius,
akan memperkecil peluang
terjadinya kasus-kasus yang
tergolong patologi sosial (penyakit
masyarakat) tersebut. “Sebab, ke mana pun para pelaku
pergi di seluruh Aceh, mereka
tetap tidak akan bisa menjalankan
misi jahatnya karena semua
kampung sudah dipagari dengan
upaya-upaya antisipatif dan pengawasan ketat untuk
mencegah kemungkinan
terjadinya setiap bentuk maksiat,”
demikian Anwar Yusuf. Sementara itu, Agus Apriyanto, SE
MSi dari Hizbut Tahrir Indonesia
(HTI) Aceh menambahkan, Aceh
merupakan daerah yang sarat
dengan budaya dan nilai-nilai
keislaman. Namun, saat ini nilai- nilai Islam itu makin sirna seiring
dengan semakin bebasnya
pergaulan muda-mudi dan
meningkatnya penggunaan
narkoba. “Kepada pemerintah diharapkan
lebih memperhatikan
perkembangan dan permasalahan
yang terjadi di tengah masyarakat,
khususnya di kalangan generasi
muda Aceh yang semakin permisif terhadap hal-hal yang dulunya
tabu dalam tata pergaulan,”
ujarnya. (Serambi Indonesia/s) Editor: Farid Assifa



m.kompas.com/news/read/2013/03/04/17232673/Masalah.Seks.Bebas.di.Aceh.Makin.Serius--regional
Sumber dari http://kask.us/g7aur oleh naik.pangkat

No comments:

Post a Comment