Monday, February 4, 2013

Demi Melestarikan Wayang Orang, Ada Mahasiswi dan Dokter Cantik Ikut Pentas

Alih Generasi, Tak Bisa Ditolak



Quote:Oleh Bambang Isti

REGENERASI di jagad pewayangan itu pasti. Ini kalau tidak mau divonis kesenian adi luhung itu bakal punah ditelan zaman.

Dan kelompok wayang orang (WO) Ngesti Pandawa Semarang sudah melakukan hal itu, setidaknya sudah dimulai dari segelintir anak-anak muda yang tampak berkelebat di atas panggung setiap Sabtu malam di gedung Ki Narto Sabdo, Kompleks TBRS Semarang.

Yang segelitir itu adalah Maya, Ria, Danu, Wiwiek dan beberapa yang lain. Ini adalah beberapa calon primadona Ngesti Pandawa yang setiap pementasan (mulai) ditunggu oleh para penonton.

Misalnya begitu Ria dan Maya, kedua gadis belia ini muncul di panggung, tepuk tangan pengunjung tak bisa ditolak. Inilah kesegaran itu. Inilah generasi baru Ngesti Pandawa yang harus terus digembleng.

Meski Martha Ardiaria, panggilan akra Ria, yang berprofesi sebagai dokter ini selalu merendah, "Saya di wayang hanya sebagai penggenap, jadi rasanya masih harus belajar banyak, saya ingin belajar di Solo," kata Ria.

Jika ada Martha, ada juga Maya. Nama yang disebut belakangan ini adalah mahasiswa Fisip Undip Semester 4. "Karena papa juga pemain di Ngesti, jadi sejak kecil saya sudah ikut main wayang dan sampai saya mahasiswa ini keterusan. Dulu waktu kecil memerankan anak-anak tokoh wayang begitu," kata Maya.

Sejak kecil darah seniman wayang sudah mengalir pada diri Maya. Kini dia mengaku sering memainkan tokoh-tokoh sentral seperti Dewi Sinta, Srikandi, atau peran-peran bambangan (satria bagus). Menari sambil nembang (membawakan nyanyian) pun mulai diakrabinya.

Terkendala

Regenerasi dunia wayang? Tapi sejumlah senior di Ngesti Pandawa sendiri mengaku masih terhambat dengan proses regenerasi itu, "Persoalan adalah para seniman itu masing-masing memiliki profesi tetap di luar panggung, sehingga belum bisa total untuk terjun di wayang," kata Cicuk Sastrosoedirdjo, pimpinan Ngesti Pandawa.

Menurut Cicuk, masih beruntung karena Ngesti Pandawa hanya tampil seminggu sekali, "Jadi mereka masih bisa ikut main secara reguler," kata anak seniman wayang Sasro Soedirdjo ini.

Para generasi muda itu ada yang berprofesi PNS, dokter, mahasiswa, atau pelajar, "Mereka selalu kami libatkan setiap ada pementas gabungan dengan kelompok wayang lain dari Solo, Jakarta atau Jogya, biar belajar banyak," kata Cicuk.

Maya, Ria atau Wiwiek Widowati adalah bagian dari sekitar 30 pemain muda Ngesti Pandawa. Beberapa memang sudah didapuk menjadi pemeran penting seperti Prabu Kresna (Pardjono). Atau pemeran mbok emban seperti Rani atau Nana. Serta pemain muda lain, seperti Danu atau Ageng sebagai prajurit.

Memenurut Martha Ardiaria, sebetulnya beberapa mahasiswa kedokteran sudah banyak yang mula tejun di dunia wayang. "Tapi mereka sering sibuk dengan kegiatan kuliah mereka," kata Ria.

Jadi, sebetulnya untuk proses regenerasi Ngesti Pandawa, memang harus dilaksanakan. Dan itu tidak bisa ditolak, agar masyarakat main cinta dengan budayanya.

Lantas apa yang tersulit saat main wayang bagi generasi muda itu?
"Semuanya sulit. Sikap tubuh dan cara beksan (menari). Komponennya kan drama, ada dialog (antawacana) juga. Jadi I'am not familiar with those stuffs," aku dr Ria Martha Ardaria.

Siapa tahu, generasi baru ini akan menggantikan para legenda wayang orang tahun 60 dan 70 an dulu, seperti Darsi dan Roesman?



sumber





Quote: Saatnya yang muda yang bicara

buat mbak Ria dan mbak Maya yang mau menjadi bagian dalam melestarikan wayang orang

Buat temen-temen yang mau nonton, datang aja ke Semarang
TS jangan dibuli lagi ya, berita udah bener dan ilustrasi udah tersedia

Sumber dari http://kask.us/g5Cza oleh girl.in.rain

No comments:

Post a Comment