Friday, February 22, 2013

Anggota DPR Ini Pilih Naik Kereta Api




TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - TAS ransel selalu menempel di pundak. Gaya dan penampilannya memang santai. jauh dari kesan jaim alias jaga image. Dia buka tipe pria pernuh gengsi, walaupun menyandang jabatan terbilang mentereng, anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat. Sederhana dan ramah.

Itulah penampilan sehari-hari Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di MPR TB Soemandjaja, sosok yang langka di DPR. Ketika TRIBUNnews.com menemuinya di gedung parlemen di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (21/2/2013), untuk wawancara, Sumandjaya sedang memimpin rapat di MPR. Ia meminta waktu menyelesaikan rapat tersebut. Sesudah rapat, ia lalu mengajak ke ruangannya di Gedung Nusantara V.

Soeman memang dikenal sebagai sosok sederhana. Tidak seperti kebanyakan anggota DPR lainnya yang bergaya hidup glamour, mobil mewah, atau tas jinjing bermerk mengilap. Sedangkan Soeman, sapaan Soemandjaja tidak. Untuk urusan angkutan, ia memilih menumpang kereta listrik sebagai moda transportasi utama. KRL merupakan salah satu simbol angkutan umum yang digemari rakyat di seputar Jakarta.

Soeman yang duduk di Komisi II DPR itu sebenarnya memiliki dua mobil, yakni Toyota Rush dan Suzuki APV untuk mencapai Senayan. Namun, ia tetap memilih angkutan umum. "Kalau naik kereta bisa ada waktu untuk berolahraga," katanya.

Ia menceritakan awalnya senang menaiki kereta listrik sejak tahun 1982 saat menjalani kursus di Jakarta. Lokasi kursus tersebut dekat dengan stasiun Cikini sehingga ia lebih memilih kereta listrik. Dari Bogor ke Jakarta dengan menumpang kereta, waktu yang dibutuhkan kurang lebih satu jam. Sedangkan ketika mengendarai mobil sendiri, saat macet mungkin bia 3 sampai 5 jam, hampir setengah hari.

Ketagihan menumpang kereta api, membuat Soeman terbiasa hingga terpilih sebagai anggota dewan pada tahun 1999 melalui Partai Keadilan. Saat itu angkutan umum yang dipilih diselingi antara kereta api dan bus. Pasalnya, bus yang ditumpanginya dari Bogor melewati kawasan depan kompleks parlemen. "Tapi tahun 2001, bus itu dilarang lewat depan kompleks parlemen dan harus turun di Slipi Jaya, akhirnya saya memilih kereta," ujar Soeman.

Pada Tahun 2002, anggota majelis Syuro PKS itu pindah ke Kabupaten Bogor untuk mendekatkan diri kepada kontituen, pemilihnya. Untuk menjangkau Jakarta, setiap hari, ia berangkat dari rumah pada pukul 05.30 WIB. Ia terlebih dahulu menuju Stasiun Cilebut, Bogor.

"Naik ojek dulu dari rumah lalu naik kereta dari Cilebut ke Stasiun Karet, kemudian naik Kopaja 608 turun di BPK," imbuhnya. Gedung BPK dan Gedung DPR berseberangan di Jalan Gatot Soebroto Jakarta. Untuk menuju kompleks parlemen, ia harus naik turun jembatna penyeberangan orang.
Saat ini, secara ia mengaku sering tiba di Gedung DPR pada pukul 08.00 WIB. Setibanya di DPR ia kemudian berolahraga bersama pegawai di pusat kebugaran. "Kalau naik mobil, pasti tidak bisa berolahraga," ujar Soeman sembari menyebut dari sisi biaya, lebih irit menumpang kereta api dibandingkan menyetir mobil sendiri.

Soeman menceritakan banyak kegiatan positif dari menumpang kereta. Salah satunya adalah bersosialisasi dengan berbagai macam penumpang. Ia biasa berdiskusi dengan mahasiswa mengenai perkembangan politik dan negara. "Mahasiswa itu tidak mengenali saya. Saya bilang kerja di Senayan jadi staf," tuturnya.
Namun, ketika mahasiswa itu mengetahui Soeman merupakan anggota DPR, ada sebagian pula yang menyindir mengenai pilihannya menumpang kereta. "Ada yang bilang kok anggota dewan naik kereta, saya bilang ini pilihan, memangnya ada yang ngelarang anggota dewan naik kereta," imbuhnya.

Warga biasa yang menjadi teman-teman Soeman selaku pengguna kereta api pun akhirnya mengerti. Bahkan, mahasiswa itu ikut mengajaknya memperjuangkan nasib pedagang di stasiun kereta api yang digusur PT KAI selaku pengelola stasiun. Selain itu, Soeman juga ikut perkumpulan penumpang kereta yakni KRL Mania. Komunitas itu biasa berbicang melalui dunia maya yakni Twitter.
"Sempat diajak kopi darat. Tapi saya masih sibuk belum sempat kopi darat jadinya," imbuh Soeman.

Mengenai pengalaman di kereta, Soeman sempat menceritakan pengalaman ketika orang di dekatnya dituduh mencopet. Ia pun langsung melindungi orang tersebut dari amuk massa. "Saya bilang, kita turunkan di stasiun, lalu kasih Polsuska," ujar Soeman.

Spoilerfor sumber:


Quote:moga2 aja bisa diterapkan ama anggota yang lain deh.
Kalau terpilih lagi di 2014, bisa kayak gini lagi ngak yah?

Sumber dari http://kask.us/g6A1K oleh inebasik

No comments:

Post a Comment